KLIA 2, bandara internasional Malaysia untuk penerbangan low-cost terbesar di dunia

Tepat 2 Mei 2014 yang lalu, bandara berstandar internasional di Kuala Lumpur, Malaysia, bernamakan KLIA 2 resmi dibuka. Bandara ini dibangun dengan dengan tujuan untuk penerbangan low-cost dari dan ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Beberapa penerbangan memang sudah resmi pindah ke KLIA 2 dari LCCT seperti Air Asia, TigerAir dan Lion Air. Bandara yang lama, LCCT-KLIA berhenti beroperasi mulai tanggal 9 Mei 2014. Penumpang yang terlanjur membeli tiket dengan keterangan LCCT-KLIA harus cekatan mengkonfirmasi rincian penerbangan mereka untuk menghindari kesalahan bandara.

KLIA 2

Keberangkatan pertama kali dilakukan oleh Cebu Pacific Airways dengan penerbangan 5J502 ke Manila dari KLIA 2 pada pukul 01:20 waktu lokal Kuala Lumpur yang mana lebih cepat satu jam dari waktu Jakarta, Indonesia. Tentunya penumpang dari Cebu Pacific Airways ini menjadi penumpang yang pertama check-in di KLIA 2. Apakah kamu salah satu penumpang tersebut?

Ya, beberapa hari setelah resmi dibuka, tim Indonesia Flight ikut penasaran dengan airport baru tersebut. Aji mumpung keesokan harinya Air Asia membuka tiket promo ke KLIA 2 dari Jakarta, harga tiket promo untuk 1 orang sekali jalan hanya Rp 358.000.

Setelah sampai di sana, kami sempat bingung mencari arah ke balai ketibaan (area kedatangan) untuk pemeriksaan imigrasi, karena bandara nya begitu besar dan luas. Masih banyak tempat kosong disekeliling dan sepi sekali, kami terus berjalan tanpa ada orang di kanan dan kiri, hanya terlihat beberapa petugas yang mengecek bangunan yang belum sempurna.

Tiba di KLIA 2 setelah turun dari pesawat

Lorong menuju pengambilan bagasi

Sepi, sepanjang jalan (masih) menuju pengambilan bagasi

Balai ketibaan

Setelah melewati pemeriksaan imigrasi dan pengambilan bagasi yang masih dalam keadaan sepi, keluarlah kami ke daerah perbelanjaan yang masih terletak di dalam bandara sebelum kami menuju terminal bus untuk menuju pusat kota. Ada beberapa anak muda membawa palang “Ask Me”, berdiri di tengah jalan sambil tersenyum, sesekali memberikan arahan untuk penumpang yang baru pertama kali ke sana dan mengalami kebingungan untuk menuju tempat yang mereka inginkan, atau cara keluar dari bandara itu mungkin. KLIA 2 tidak hanya menempatkan anak-anak muda tersebut di satu titik, tapi beberapa titik sepanjang bandara, kecuali area sebelum migrasi tentunya.

Staff “Ask Me”

Jika sudah menemukan tempat ini, ini loket dimana kita dapat membeli tiket taksi, bus ke pusat kota maupun ke luar kota seperti Genting Highlands, dan Malaka.

Taxi dan Bus Counter

***

Ketika tiba saatnya pulang ke tanah air, semakin terkagum melihat besarnya bandara ini melebihi yang kami bayangkan. Memang beberapa toko belum dibuka, namun sudah ada poster yang menyatakan bahwa sebentar lagi akan dibuka restoran atau tempat perbelanjaan yang cocok untuk penumpang dengan jadwal penerbangan yang masih beberapa jam ke depan. Mata saya menangkap poster makanan Indonesia berlabel “Dapur Sunda” yang akan dibuka segera. Sayang, belum sempat mencicipinya, saya sudah harus pulang ke tanah air.

jadwal keberangkatan di KLIA 2

Karena penerbangan saya masih beberapa jam ke depan, saya “pusing-pusing” (bahasa melayu dari : keliling) di area check-in KLIA 2, dan menemukan beberapa hal menarik seperti fakta-fakta mengenai bandara ini tertulis di setiap dinding

Did you know KLIA 2

Did you know KLIA 2 – II

Do you know KLIA 2 – III

proses check-in lebih mudah menggunakan mesin self-service check-in

Air Asia self check-in

hanya memasukan kode booking dari tiket Air Asia saya, dan keluarlah boarding pass. Namun saya harus tetap mengantri line counter “baggage drop” untuk check-in bagasi saya.

Setelah itu bisa langsung masuk untuk pemeriksaan imigrasi, antrian tidak cukup panjang, deteksi finger print yang sangat berguna untuk keamanan. Ya, saya ulangi, sangat berguna. Dulu sebelum adanya keamanan finger print ini, saya pernah mendengar adanya pemalsuan passport dengan nama yang berbeda untuk dapat bolak balik bepergian ke Kuala lumpur, bekerja tanpa izin disana dengan upah lumayan besar jika dikonversikan ke rupiah.

terminal keberangkatan internasional KLIA 2

Kembali ke KLIA 2, setelah melewati area imigrasi, belum begitu banyak toko yang dibuka. Masalah terbesar untuk menuju gate pesawat adalah jauhnya jarak dari satu titik ke titik lain. Ada petugas yang membawa mobil yang biasa digunakan di bandara untuk mengangkut beberapa orang. Sedikit melirik ke arah mobil berpikir betapa nyamannya tidak perlu jalan kaki ke gate pesawat yang akan dituju. Sedikit penyangkalan diri akhirnya jalan juga, malu sama orang tua yang sudah beruban di ujung sana karena beliau memilih jalan kaki ketimbang naik mobil pengangkut tersebut.

Setelah sampai di ujung jalan, ke arah kanan ada jalan menukik turun untuk pemeriksaan terakhir masuk gate ruang tunggu. Perjalanan berakhir namun puas. KLIA 2 akan menjadi ikon untuk memperkuat posisi Malaysia sebagai negara pusat penerbangan global terkemuka.

-Marcella Einsteins-

Share Button